Monday, November 20, 2017

Sedentary Lifestyle, Kenyamanan atau Ancaman?



Hidup di zaman serba modern seperti saat ini memberikan banyak kemudahan kepada kita dalam melakukan pekerjaan ataupun aktivitas lainnya. Kemudahan dalam berinterkasi sosial, kemudahan dalam akses yang berkaitan dengan pendidikan, kemudahan dalam memenuhi kebutuhan hidup, semisal berbelanja, makan dan keperluan lainnya.
Berbagai kemudahan ini membuat kita jadi “mager” alias malas gerak. Saya sendiri sering sekali jadi mager setelah pulang dari kerja, begitu sampai di rumah, istirahat sejenak (niatnya sih sejenak...ternyata mbablas sampai berjam-jam, ha..ha..) buka-buka smartphone dan dari situ kita jadi lupa waktu. Banyak sekali kita temukan hal-hal baru setiap kali kita membuka smart phone, mulai dari berita politik, hiburan dan aktivitas belanja pun bisa kita lakukan dengan duduk santai memegang smart phone.

Apa sih, sedentari itu?

Sedentari adalah kebiasaan-kebiasaan seseorang yang tidak banyak melakukan gerakan atau aktivitas fisik, pola makan yang tidak menentu dan cenderung berlebihan. Perilaku santai dan malas gerak ini sering kita lihat di sekitar kita atau bahkan mungkin kita sendiri pelaku sedentari itu.

Kenapa bisa muncul perilaku sedentari?

Pertama kebiasaan, kebiasaan yang berlaku di tengah-tengah masyarakat membuat kita cenderung mengikutinya, misalnya di sekitar kita orang lebih sering menggunakan kendaraan untuk menuju ke tempat-tempat tertentu yang sebenarnya jaraknya tidak terlalu jauh. Di beberapa negara, misalnya di Jepang berbeda lagi. Mereka terbiasa berjalan kaki untuk pergi ke kantor atau ke tempat-tempat lainnya. Jadi sekali lagi, kebiasaan di masyarakat juga mempengaruhi perilaku sedentari.
Kedua kesenangan, siapa sih yang tidak senang hidupnya santai dan bisa menikmati fasilitas yang disediakan tanpa banyak mengeluarkan tenaga dan keringat. Berbagai jenis fasilitas yang tersedia memang memanjakan dan membuat kita betah berlama-lama duduk tanpa melakukan aktivitas yang menuntut banyak bergerak
Ketiga tuntutan pekerjaan, bekerja di kantor yang menuntut untuk berlama-lama di depan komputer, menulis laporan dan setumpuk berkas yang harus diselesaikan juga menjadi alasan untuk berperilaku sedentari.

Apa dampak perilaku sedentari terhadap kesehatan?

Mungkin kita semua sudah mengetahui bahwa aktivitas fisik dan banyak bergerak dapat membakar kalori yang berlebihan dalam tubuh. Jika kita tidak banyak melakukan aktivitas bergerak, sementara asupan makanan yang masuk ke tubuh kita berlebihan tentu saja akan menyebabkan penumpukan kalori yang ujungnya akan menimbulkan berbagai masalah kesehatan.
Beberapa masalah kesehatan yang muncul akibat perilaku sedentari ;
- Obesitas
- Diabetes
- Tekanan darah tinggi
- Jantung
- Stroke
- Kolesterol tinggi

Bisakah menghindari perilaku sedentari ?

Beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk menghindari perilaku sedentari adalah dengan memperbanyak aktivitas fisik dan bergerak, seperti:

Berolahraga. Banyak sekali jenis olahraga yang bisa dilakukan seperti lari pagi, senam, yoga atau berenang. Olahraga dapat membantu mengeluarkan kalori yang berlebihan dari dalam tubuh.
Merubah kebiasaan. Jika biasanya kita lebih sering berkendara motor ke tempat-tempat yang tidak terlalu jauh, kita bisa memulainya dengan bersepeda atau berjalan kaki. Menaiki tangga dan bukan dengan eskalator ketika berbelanja di mall.
Melakukan pekerjaan rumah sendiri tanpa mengandalkan ART. Jika kita masih bisa melakukan pekerjaan rumah sendiri, maka mulailah membiasakan diri melakukannya. Mulai dari hal-hal kecil seperti menyapu dan mencuci piring. Jadi tidak semua pekerjaan diserahkan kepada ART.
Melakukan hobi. Hobi yang bisa dilakukan untuk mengurangi perilaku sedentari seperti memasak, berkebun, membuat kerajinan dan aktivitas lain yang banyak bergerak.