Tuesday, February 27, 2018

Temukan Potensi Unggul Anak dengan Cara Ini


Bunda yang baik...

Pernahkan Bunda mengamati aktivitas anak-anak Bunda sehari-hari ketika di rumah? Kegiatan apa yang paling disukai mereka, dan paling sering mereka lakukan di rumah. Dalam mengamati aktivitas anak-anak Bunda sehari-hari mungkin Bunda sering bertanya dalam hati, "akan jadi apakah anakku kelak?" Jadi guru, dokter, insinyur, chef ataukah yang  lainnya.
Kalau sudah muncul pertanyaan seperti ini, biasanya apa yang Bunda lakukan untuk bisa menemukan jawabannya?
Apakah bertanya kepada anak dengan pertanyaan klise orang dewasa kepada anak,  seperti : Kalau sudah besar mau jadi apa, Nak?
Atau membawa anak-anak Bunda ke tempat-tempat tes bakat dan minat yang sudah banyak kita lihat di sekitar kita?
Ataukah  Bunda punya kiat khusus untuk menemukan bakat dan minat  yang akan mengantarkan anak mencapai cita-citanya?

Buat saya sendiri, ternyata mengenali bakat dan minat anak itu enggak gampang, ini buat saya sendiri ya Bun, enggak tahu juga bagaimana dengan Bunda-bunda yang lain. Kadang saya berpikir, kalau anak saya berbakat di bidang tertentu, karena dia bisa melakukan sesuatu yang saya pikir menjadi bakatnya itu dengan mudah dan melakukannya dengan perasaan senang, tapi setelah beberapa waktu berjalan, tiba-tiba anak saya enggak suka, merasa tidak bisa dan malas melakukan kegiatan itu. Saya jadi bingung, sebenarnya apa ya, minat dan bakat anak saya itu?

Membaca buku yang berjudul "Rahasia Ayah Edy Memetakan Potensi Unggul Anak ", Bunda akan menemukan jawaban tenatang bagaimana cara menemukan bakat dan minat seorang anak. Dalam buku ini Ayah Edy menjelaskan secara gamblang, bagaimana tahapan-tahapan yang harus dilakukan untuk menemukan bakat dan minat, juga potensi unggul dalam diri seorang anak.

Apakah Bakat Itu?

Bakat merupakan potensi bawaan sejak lahir, Untuk mengasah bakat dibutuhkan latihan yang terus menerus. Anak yang memiliki bakat di bidang tertentu, jika diasah terus menerus maka hasilnya akan lebih signifikan dibandingkan anak yang tidak berbakat. Sebagai contoh, seorang anak yang berbakat menari, ia akan lebih cepat terampil jika diajari menari. Sebaiknya , anak yang tidak berbakat menari, akan membutuhkan waktu lebih lama untuk bisa menguasai sebuah tarian.

Bagaimana dengan minat?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indinesia, minat diartikan sebagai keinginan hati yang tinggi terhadap sesuatu. Dalam bahasa Inggris, minat disebut juga "passion". Minat bisa muncul dari dalam diri seseorang dan bisa juga karena pengaruh lingkungan. Jika seorang anak ditanya "Kenapa kamu menyukai ini?" , biasanya anak akan menjawab " Enggak tahu, pokoknya saya suka aja", Jika seperti itu jawabannya, artinya minat tersebut muncul dari dalam diri anak tanpa ada pengaruh lingkungan. Namun berbeda jika misalnya seorang anak ingin jadi penyanyi karena di lingkungannya sebagian besar menjadi penyanyi, itu bisa jadi minatnya muncul karena pengaruh lingkungan.

Minat adalah urusan hati, ketika kita mengerjakan sesuatu yang diminati, biasanya kita akan merasa senang. namun bila kita menyukai sesuatu belum tentu kita berbakat di bidang yang kita sukai itu.

Potensi Unggul

Banyak anak yang memiliki bakat/potensi lebih dari satu. Seorang anak bisa saja pandai matematika, menyanyi dan sekaligus menari. Potensi Unggul adalah potensi terbaik di antara semua potensi yang dimiliki anak. Nah, tugas kita adalah menemukan potensi unggul tersebut.
Bagaimana menemukan potensi unggul tersebut?

Ayah Edi menjelaskan ada 5 langkah untuk menemukan potensi unggul seorang anak :

1. Menyusun Program Stimulasi

Stimulasi bisa dilakukan dengan mengenalkan anak dengan beberapa kegiatan atau aktivitas yang berkaitan dengan profesi. Misalnya dengan membacakan buku mengenai macam-macam profesi, mengunjungi museum, menyaksikan pagelaran seni, menonton pertandingan olahraga, atau mengajak anak ke sebuah pameran buku, teknologi, wisata, wirausaha dan sebagainya.

Stimulasi ini dilakukan secara rutin semisal dua minggu sekali atau sebulan sekali, jadikan hal ini sebagai kegiatan yang menyenangkan dan bukan sebuah paksaan. Stimulasi ini bisa dilakukan sedini mungkin, sejak anak usia 1 tahun, sampai anak usia SD, SMP atau hingga dia bisa mengatakan secara pasti dan yakin ingin jadi apa suatu hari nanti.

2. Membuat Daftar Minat dan Bakat

Langkah berikutnya setelah melakukan stimulasi adalah membuat daftar minat dan bakat. Daftar berisi aneka  aktivitas atau bidang yang diminati anak. Kumpulkan sedikitnya sepuluh aktivitas atau bidang. Masing-masing bidang diberi skor nilai dari 1 - 10. Untuk bidang yang paling disukai anak diberi skor 10, untuk yang diminati tetapi bukan yang "paling" diminati bisa diberikan skor 8 atau 9, sedangkan untuk yang biasa-biasa saja diberi skor 6 atau 7. Dari beberapa daftar yang sudah diberi nilai ini, ambillah sedikitnya 3 bidang yang paling diminati oleh anak, untuk selanjutnya dilakukan pengujian terhadap minat tersebut.

3. Uji Coba Minat dan Bakat Anak.

Jika anak sudah memilih bidang yang disukainya, selanjutnya lakukan pengujian apakah minatnya itu didukung oleh bakat yang kuat. Jika minatya kuat, kemudian setelah diuji bakatnya juga kuat, maka serta anak juga terlihat tekun berlatih, itu bisa dijadikan petunjuk kuat potensi unggulnya. Bunda bisa melakukan hal yang sama untuk bidang-bidang yang lainnya.

4. Penajaman Profesi.

 Setelah kita menemukan bidang-bidang yang disukai anak, bukan berarti kita berhenti sampai di sini dan berkesimpulan bahwa anak kita menyukai bidang ini.  Tugas kita selanjutnya adalah mempertajam bidang yang diminati oleh anak, sebagai contoh, jika anak kita menyukai pesawat, jangan berkesimpuln bahwa ia ingin menjadi pilot, bagian mana yang paling disukai oleh anak dari ketertarikannya dengan pesawat tersebut, apakah memang ingin menjadi pilot, ataukah lebih tertarik pada mesinnya, manajemennya, ataukah desainnya.

5. Make a Life Plan

Jika tujuan spesifik sudah ditentukan, langkah yang terakhir adalah membuat life plan. Life plan ini ibarat sebuah peta yang akan membimbing anak untuk sampai ke tujuannya.
Jika anak ingin menjadi X dengan spesialisasi Y maka harus dilakukan life plan-nya sebagai berikut:
Tahun berapa ia ingin meraih cita-citanya itu? Pada usia berapa?

Itulah 5 langkah yang bisa kita lakukan untuk menemukan potensi unggul pada anak berdasarkan tulisan Ayah Edy dalam buku tersebut. Bunda akan menemukan gambaran yang lebih jelas dan detail dari setiap langkah yang sudah disebutkan di atas, dilengkapi dengan contoh-contoh kasus yang pernah ditangani oleh Ayah Edy.