Thursday, December 7, 2017

Kebiasaan Guru Yang Enggak Boleh Ditiru

December 07, 2017 0 Comments
pexel.com
Sebagai seorang guru memang sewajarnya untuk selalu bersikap baik di depan orang lain, apalagi di depan anak-anak didiknya, karena dari gurulah murid-murid belajar tentang banyak hal. Kalau gurunya punya kebiasaan yang baik, bisa jadi anak-anak didiknya pun akan meniru kebiasaan baik dari guru tersebut. Namun masih ada juga beberapa kebiasaan yang kurang baik dari seorang guru.  Disebut kebiasaan karena pastinya dilakukan terus menerus, kalau sekali dua kali namanya bukan kebiasaan ya.  Guru juga kadang ada salah dan khilaf dalam menjalankan tugasnya.
Saya bicara tentang ini dalam kaca mata saya sebagai seorang guru, bukan untuk mengevaluasi sesama guru, tapi semata-mata untuk pembelajaran diri sendiri agar saya selalu ingat dengan apa yang saya tulis di sini. Karena bagaimanapun saya juga pernah melakukan beberapa (tapi enggak semua loh ya...) kebiasaan –kebiasaan buruk ini.

Kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik dari guru itu misalnya,

1.    Datang terlambat
Tapi bukan saya lho ya, ciee...ngakunya nih...Etapi bener loh, jujur kalau saya selalu berusaha untuk tidak terlambat, karena saya malu sama murid-murid, suka menegur kalau muridnya terlambat tapi gurunya sendiri suka berangkat  terlambat. Alasannya sih klise, karena kesiangan,karena ngurusin anak-anak yang mau berangkat sekolah, karena macet, bannya bocor dan alasan-alasan klise lainnya.
Sebagai seorang guru memang harusnya punya manajemen hidup yang baik, seperti kapan harus bangun, kapan menyiapkan keperluan mengajarnya,  menyiapkan keperluan anak-anak sekolah, menyiapkan sarapan dan sebagainya. Buat emak-emak seperti saya dengan dua anak kecil yang masih sekolah  tentu tidak mudah ya, berusaha agar anak tidak terlambat ke sekolah, juga sayanya sendiri tidak terlambat.
Namanya anak-anak, kadang sikapnya suka tidak terduga. Tiba-tiba rewel lah, enggak mau sekolah dan ngambeklah, capek dan segala macam alasan.
Tapi saya yakin, seorang guru sebenarnya tak pernah dengan sengaja untuk  selalu terlambat dan selalu berusaha untuk bisa datang lebih pagi.

2.    Suka pilih kasih
Dulu waktu sekolah saya suka sebel kalau ada guru yang pilih kasih, saya dulu paling enggak suka sama pelajaran olahraga, karena saya enggak pintar di bidang itu. Kalau sudah waktunya olahraga dimulai, pasti deh anak-anak yang pinter olahraga saja yang diajak ngobrol, yang dikasih tepuk tangan.  Uuuh ..sedih sekali rasanya.
Kadang-kadang, pandangan subyektif terhadap murid itu ada pada seorang guru, hanya murid-murid tertentu saja yang diperhatikan sedangkan anak lain dicuekin, oh ..kasihan..
Karena saya sekarang yang menjadi guru, saya akan berusaha untuk tidak pilih kasih dengan murid. Tapi tetap saja yang namanya anak-anak kadang masih suka protes, “wah bu guru pilih kasih, dia dikasih nilai bagus sedangkan aku jelek.”ya, mau gimana lagi kalau memang nilainya segitu.

3.    Suka membentak
Sewaktu masih  jadi anak sekolah pasti enggak seneng kan atau bahkan takut kalau dibentak oleh guru? Kalau memang kita salah atau melanggar aturan si mungkin sudah sewajarnya  kena marah guru. Biasanya kalau sudah dimarahi guru, kita berusaha untuk tidak mengulanginya lagi.
Namun kadangkala ada guru yang marah dan membentak- bentak tanpa mau tahu dan tak mau mendengar penjelasan dari muridnya. Saya sebagai guru inginnya sih enggak marah-marah sama murid. Cuma memang kadang suasana hati sedang tidak mendukung untuk itu. Tapi bagaimanapun, ada baiknya guru  menanyai murid terlebih dahulu alasan mengapa mereka berbuat sesuatu yang melanggar aturan.
Pernah ada satu murid yang tidak mengerjakan PR. Pas saya bertanya kenapa dia tidak mengerjakan PR, dia bilang kalau dia tidak sempat karena sepulang sekolah dia harus membantu orang tuanya menjaga adiknya yang masih kecil karena orang tuanya harus kerja. Begitu tiba waktu sore dia harus mengaji di TPQ, terus malamnya dia masih harus mengaji di rumah ustadnya. Nah, kalau alasannya seperti itu apa pantas saya marah-marah sama dia karena enggak mengerjakan PR?

4.    Jarang memuji, sering mengkritik
Waktu masih menjadi anak sekolah dulu, saya pernah dikritik karena kurang dalam mata pelajaran olahraga (yei..mapel olahrga lagi deh ceritanya..) tapi kritikan itu bukan membuat saya jadi bersemangat, saya malah jadi enggak suka sama pelajaran olahraga, bahkan jadi enggak suka dengan gurunya.
Menurut ilmu psikologi pendidikan yang pernah saya baca, sebenarnya kritikan itu memang bisa meruntuhkan kepercayaan diri dan motivasi, sedangkan pujian yang tulus dan tidak berlebihan justru bisa membuat orang jadi gembira dan bersemangat.
Nah, dari sini saya sebagai guru berusaha untuk memberi pujian ketika anak melakukan sesuatu yang baik. Dan memang bener juga kalau anak yang dipuji itu jadi lebih bergembira dan bersemangat .  Hanya saja kadang-kadang kita suka lupa dan lebih banyak mengkritik dan mencari kesalahan anak.  Dampaknya, anak jadi malah bersikap masa bodoh.

5.    Malas membaca
Lucu juga kan kalau saya selalu menyuruh murid-murid banyak membaca tapi sayanya sendiri malas membaca. Sebagai seorang guru memang sebaiknya banyak membaca, membaca tentang ilmu agama, membaca materi pelajaran yang akan diajarkan kepada murid-murid, membaca berita-berita di koran atau apa saja deh biar wawasan guru itu luas.
Tapi yang terjadi malah, sibuk membaca status orang di sosial media, sibuk membaca gosip-gosip selebritis yang sebenarnya enggak  begitu penting. Aduuuuh...maafkan diriku ya...tapi kan guru juga butuh hiburan ya selepas lelah bekerja... (mulai cari-cari pembenaran nih...xixix...)

6.    Sibuk dengan sosial media
Kebiasaan yang ini pastinya untuk guru zaman now ya. Karena kalau guru zaman old belum mengenal dunia sosmed.
Kehadiran sosial media saat ini memang telah mempengaruhi hampir semua aspek kehidupan. Enggak hanya anak-anak muda, guru pun banyak yang keranjingan sosial media. Tentu saja hal ini jadi menyita waktu dan perhatian guru.
Waktu yang seharusnya digunakan untuk membaca, untuk belajar, dan mempersiapkan bahan pembelajaran jadi tersita untuk bermain-main di sosial media. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa ada banyak hal positif yang kita dapatkan dari sosial media, antara lain, komunikasi dengan sesama teman guru jadi mudah,  interkasi dengan guru dari sekolah lain juga gampang, juga  bisa sharing-sharing tentang berbagai macam informasi, tips dan trik serta  hal-hal baik lainnya. 

Terlepas dari kebiasaan-kebiasaan buruk tersebut, masih banyak kok, kebiasaan-kebiasaan baik dari guru, antara lain, sabar, pengertian, ramah dan berjiwa sosial, baik hati, tidak sombong dan suka menabung...he he...
Yah,  seperti yang pernah saya bilang di postingan lainnya, kalau guru bukanlah manusia yang sempurna.   Apalagi saya, masih sangat jauh dari kriteria guru yang baik. Ah..jadi maluu...
Yang pasti tetap semangat ya...semoga guru-guru di Indonesia semakin baik.


Guru Bukan Manusia Sempurna

December 07, 2017 0 Comments

Ada pepatah yang mengatakan bahwa “Guru itu digugu dan ditiru”. Setiap tindak tanduk seorang guru  selalu dilihat bahkan kadang ditiru oleh muridnya. Karena itu sebagai seorang guru haruslah memiliki citra yang baik di mata orang lain, terlebih di hadapan anak-anak didiknya. 
Tapi guru tetaplah manusia biasa , guru bukanlah manusia yang diturunkan dari langit begitu saja dengan segala kesempurnaannya.  Namun, seorang guru selalu berusaha untuk memperbaiki dirinya karena dari merekalah anak-anak didik belajar tentang banyak hal.
Sebagai seorang guru,  saya merasa sangat jauh dari kata sempurna, baik saja enggak kok, apalagi sempurna. Cuma setidaknya, karena sudah punya label sebagai guru, saya harus selalu berusaha menjaga kode etik guru.
Tapi yang namanya manusia, selalu ada kekurangan dan kelemahan yang  membuatnya  tidak bisa menjadi  sempurna, karena kesempurnaan hanya milik Allah Subhanahu Wata’ala.
Jadi kenapa saya bilang bahwa guru bukan manusia sempurna?  Karena beberapa alasan di sini ya...

    Enggak serba tahu
Memangnya guru itu Tuhan yang serba tahu segalanya?  Walaupun guru itu sudah mengajar belasan tahun lamanya, tetap saja ada hal yang kadang tidak diketahui tentang materi yang diajarkan. Karena ilmu terus berkembang, jadi guru pun harus selalu mau belajar. Saya juga pernah kok, pas ditanya murid tentang sesuatu hal tapi saya bingung menjawabnya. Dari pada saya menjawab asal-asalan, lebih baik saya pending dulu sampai saya menemukan jawaban yang tepat. Kalaupun sudah terlanjur saya jawab kemudian ternyata itu salah ya saya bilang ke murid-murid kalau kemarin jawabannya salah. Murid-murid bisa ngerti kok.

    Suka Lupa
Kadang-kadang, saking asiknya mengerjakan satu tugas , guru suka lupa mengerjakan tugas yang lainnya.  Asal enggak lupa saat jamnya masuk kelas aja ya...he he..
Memangnya tugas guru itu banyak ya?
Ya iyalah, mulai dari menyiapkan bahan pembelajaran, mengajar di kelas, melakukan evaluasi, mengoreksi ulangan, mencatat agenda, belum lagi administrasi lainnya yang jumlahnya lebih dari 25 macam. Nah, saking banyaknya administrasi yang harus diselesaikan, jadinya guru suka lupa dengan tugas yang sebenarnya sangat penting untuk dikerjakan.

    Guru bisa marah
Guru juga boleh marah kok. Saat anak-anak enggak mendengarkan guru, mengganggu temannya di kelas, berisik dan susah diatur, guru bisa habis kesabaran menghadapinya. Tapi pada dasarnya, rasa marah seoarng guru itu tujuannya baik ya, biar anak-anak disiplin, menghargai orang lain dan memiliki prestasi yang bagus.

    Guru bisa sakit
Namanya juga manusia, kalau ketahanan tubuh sudah melemah ya kadang jatuh sakit. Banyaknya kegiatan di sekolah, juga pekerjaan rumah yang seabrek tentu saja membuat tenaga dan pikiran terkuras. Kalau sudah begini, mau tidak mau guru pun harus istirahat. Nah, kalau tubuh sudah memberi kode untuk istirahat, jadinya terpaksa enggak bisa mengisi pelajaran di kelas. Tentu saja guru tetap memikirkan apa tugas yang harus dikerjakan oleh anak-anak agar tidak tertinggal selama guru istirahat di rumah.

Sebenarnya masih banyak ya, hal-hal yang menjadi alasan bahwa guru itu bukan manusia sempurna. Namun yang lebih penting dari itu, guru itu selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk anak-anak didiknya, guru selalu menginginkan anak didiknya menjadi orang sukses di kehidupannya, selalu menginginkan anak didiknya memiliki akhlak yang baik. Dan  untuk keluarganya sendiri, guru selalu ingin mempunyai waktu untuk keluarganya di tengah kesibukannya mengajar