Sunday, January 21, 2018

Mengintip Kenyamanan Sekolah Finlandia



Beberapa  waktu lalu saya melihat buku berjudul “Teach Like Finland” mengajar seperti Finlandia ini di timeline  instagram. Panasaran juga dengan buku ini, secara sudah lama saya sering membaca artikel yang membahas tentang kehebatan Finlandia dalam dunia pendidikan. Di sosial media dan di Youtube juga sudah banyak membahas tentang sekolah Finlandia, Cuma semua masih belum menjawab rasa penasaran saya tentang sekolah Finlandia. Enggak perlu kelamaan mikir, saya pun memesan buku itu sama temen saya yang di Jogja. Dan beberapa hari kemudian sampailah buku ini di tangan saya.

Buku ini ditulis oleh Timothy D Walker, seorang guru Sekolah Dasar dari Amerika yang merasa bahwa pekerjaannya menjadi guru sangatlah berat, dia hampir tak punya waktu untuk istirahat. Tiba di sekolah jam 06.30 dan pulang jam 3 sore, kadang-kadang pulang malam hari dengan membawa satu tas penuh berisi tugas dan pekerjaan sekolah. Dia benar-benar tidak bisa menikmati hidupnya sendiri karena kurangnya keseimbangan antara kerja dan waktu untuk diri sendiri dan keluarga. Hidupnya selalu tertekan dan penuh dengan kecemasan.
Saat di sekolah pun dia menghabiskan waktu istirahat di ruang kerja atau di dalam kelas untuk mengecek semua pekerjaan dan mempersiapkan pembelajaran di kelas selanjutnya. Melewatkan waktu makan siang, bahkan tidak ada waktu untuk duduk-duduk santai menikmati jam istirahat atau sekedar bersosialisasi dengan rekan kerja.

Kemudian Tim memutuskan untuk pindah ke Finlandia bersama istrinya yang memang berasal dari sana dan menetap di kota Helsinki. Sebelumnya, Istrinya selalu menceritakan tentang kehidupan di Finlandia yang menyenangkan, guru-guru dan siswa di sana tidak pernah merasakan kecemasan dan tekanan yang berat karena beban pekerjaan di sekolah.
Tak lama setelah kepindahannya ke Helsinki, Tim diminta untuk mengajar kelas 5 di sebuah sekolah umum Helsinki.  Betapa bahagianya Tim menerima tawaran itu. Selama ini dia sering mendengar bahwa Sekolah Finlandia adalah sekolah yang hebat. Banyak sekali media yang membicarakan tentang hebatnya pendidikan di Finlandia ini. Sebuah tes internasional  yang diadakan oleh PISA (Programme for International Student Assessment/Progam Penilaian Siswa Internasional), Finlandia mendapat peringkat terbaik dalam tes membaca, matematika dan sains.

Hasil ini tentu mengejutkan banyak pihak yang mendengarnya, mengingat negara finlandia adalah negara kecil dengan dengan jumlah penduduk tidak lebih dari 6 juta jiwa, tetapi sistem pendidikannya bisa dikatakan nomor satu di dunia. Lalu, apa sih sebenarnya rahasia kesuksesan pendidikan Finlandia?

Dalam buku “Teach Like Finland ini” Tim menjelaskan secara gamblang berdasarkan pengalamannya sendiri selama mengajar di Finlandia. Ada 33 strategi sederhana untuk menciptakan kelas yang menyenangkan.

1.    Jadwal Istirahat Otak
Sekolah-sekolah di Finlandia menerapkan istirahat 5 menit setiap 45 menit pelajaran, di tambah istirahat 15 menit yang sering.  Istirahat yang sering ini bertujuan untuk menyegarkan otak. Beban belajar di sekolah Finlandia hanya 18 jam dalam seminggu. Ini membuat siswa-siswi di Finlandia mendapatkan waktu istirahat yang cukup sepulang sekolah. Lantas, bagaimana mereka bisa mendapat prestasi yang bagus dengan jam belajar yang sedikit itu? Apakah benar di Finlandia tidak ada PR untuk siwanya? Mitos tentang tidak adanya PR ternyata tidak sepenuhnya benar, PR tetap diberikan dengan catatan, tidak memberatkan siswa dan bisa dikerjakan dalam waktu 10- 30 menit saja tanpa bantuan orang dewasa.

2.     Menyederhanakan Ruang
Ruang kelas di sekolah Finlandia dibuat sangat sederhana dan tidak menempelkan karya-karya siswa terlalu banyak di dinding-dinding kelas. Dengan menerapkan prisip “less is more”  ini dimaksudkan agar siswa bisa tetap fokus belajar dan tidak ada rangsangan lain dari luar yang akan membuyarkan konsentrasi belajar.

3.    Rasa dimiliki (sense of belonging)
Di sekolah Finlandia dibentuk sebuah “student welfare team” (tim kesejahteraan siswa) yang terdiri dari kepala sekolah, guru, para profesional, pekerja sosial, perawat dan psikolog untuk membantu permasalahan yang dialami para siswa. Guru tidak bekerja sendirian, tetapi bersama-sama bertanggung jawab  dengan team untuk menangani berbagai kebutuhan siswa. Dari sini, siswa merasakan adanya rasa dimiliki di sekolah. Ada 6 strategi yang akan menguatkan sense of belonging di dalam kelas diantaranya : mengenal setiap anak, bermain dengan mereka, merayakan keberhasilan, mengejar impian kelas, menghapus bullying, dan berkawan.

4.    Kemandirian.
Para siswa di Finlandia terbiasa berangkat dan pulang sekolah sendiri tanpa antar jemput orang tuanya, maka jangan heran jika di sana melihat seorang anak SD berangkat sekolah naik Bus sendiri. Kemandirian ini juga diterapkan dalam proses pembelajaran dengan adanya “Pekan Pembelajaran Mandiri”. Siswa dan guru bersama-sama menentukan sendiri metode pembelajaran yang sesuai semisal bermain peran (role play) untuk pelajaran tertentu.

Lebih jauh tentang strategi kesuksesan pembelajaran di sekolah Finlandia dikupas tuntas dalam buku ini.

Yang paling terakhir dari buku ini adalah sebuah pesan “ jangan lupa bahagia” . dari sini bisa digaris bawahi bahwa kurikulum inti dari praktek pembelajaran di Finlandia adalah menciptakan rasa bahagia dalam belajar. Dengan perasaan bahagia yang dihadirkan dalam proses pembelajaran, akan membuat siswa senang belajar dan mudah meraih kesuksesan, karena sesungguhnya kebahagian bukanlah hasil dari kesuksesan, kebahagian adalah kunci kesuksesan.