Monday, November 27, 2017

MenemukanMu dan Menemukannya, Catatan Seorang Penderita Bipolar

Siapa mengira jika ibu dari 4 orang anak ini divonis menderita gangguan Bipolar (Bipolar Disorder). Tekanan demi tekanan yang dialami semasa hidupnya membuat dia sempat mengalami satu fase depresi yang sangat berat. Namun akhirnya dia menemukan satu titik balik dalam hidupnya setelah berhasil mengatasi sendiri gangguan yang dialaminya.

Penderita dengan gangguan Bipolar atau Orang Dengan Bipolar (ODB) juga dikenal sebagai depresi maniac, adalah suatu kondisi mental yang menyebabkan terjadinya perubahan mood yang ekstrem. Orang yang menderita gangguan bipolar dapat berubah perasaan dari sangat bahagia (mania) menjadi sangat sedih (depresi). Sering kali, di antara perubahan keduanya, penderita tetap mengalami kondisi mood yang normal. Saat penderita merasa sedih, ia akan merasa tertekan, kehilangan harapan, dan bahkan dapat kehilangan keinginan untuk melakukan kegiatan sehari-hari. Tetapi saat merasa senang, penderita akan merasa sangat bersemangat dan penuh gairah.
Perubahan mood tersebut dapat terjadi beberapa kali dalam setahun, atau bahkan dalam seminggu dalam kasus yang lebih parah. Kondisi jiwa ini dapat menyebabkan rusaknya hubungan pribadi, rendahnya motivasi dan produktivitas di tempat kerja, dan yang lebih buruk lagi dapat menyebabkan perasaan ingin melakukan bunuh diri.
Dalam sebuah wawancara yang berhasil kami rangkum, dia menceritakan kisah hidupnya sejak dirinya divonis menderita gangguan bipolar sampai akhirnya berhasil menulis sebuah buku setebal 160 halaman. Buku ini ditulis hanya dalam waktu 2 hari.

Sendy Winduvitri nama lengkapnya, namun dia menyebut dirinya dengan Sendy Hadiat. Diambil dari nama ayahnya Edi Hadiat. Wanita cantik kelahiran Jakarta, 7 Desember 1984 ini menuturkan kisah bahwa dirinya didiagnosa menderita gangguan bipolar sejak tahun 2012. Kebetulan saat itu dia tinggal sendiri di Indonesia, sedangkan 3 saudaranya yang semua laki-laki tinggal di Amerika.

Tahun 2015 Ayahnya meninggal dan sampai saat itu pun dia dan keluarganya belum mengetahui tentang apa itu gangguan bipolar serta bagaimana mengatasinya. Tekanan demi tekanan selalu datang dari mantan istri suaminya, juga dari keluarganya, serta dari keluarga inti sang suami yang dipengaruhi mantan istri suami.

Masalah demi masalah meledak seperti sebuah bom waktu akibat fase maniak yang dialaminya selama satu tahun. Tepatnya di tahun 2017, dia mulai mencari tahu tentang apa itu Bipolar dan cara mengatasinya, dari sebuah buku yang pernah dibelinya. Dalam buku itu dia menemukan alamat seorang psikiater di daerah Yogyakarta. Semenjak saat itu dia mulai rutin berkonsultasi dengan didampingi suaminya. Dan sampai saat ini pun dia masih rutin mengonsumsi obat-obatan dari dokter jiwanya itu.

Harapan besar Sendy setelah terbitnya buku ini, agar kita lebih tidak menganggap remeh orang yang mengalami lemah kejiwaan. Buku ini juga memberi inspirasi kepada kita untuk lebih peduli terhadap keluarga, karena keluarga adalah akar dari perkembangan mental dan kejiwaan.